Navi
Usrah Diriku Murabbi Memoir

{وردة الأولياء }

Seperti lirihnya hujan menjatuh. seperti itu hati aku jatuh.

Aku mahu menjadi seperti hujan itu ; yang tetap memberi nikmat walau di hujung rintik. ; yang tetap memberi manfaat walau kemana bumi ia basahi.

meski, sudah telat-lewat pada aliran ujung kristal jernih sedikitnya ; kapan pun, ia tetap kan bermakna bila sedikitnya itu ; menghasilkan lekukan yang begitu dalam.

Firman Allah swt ; " Sesungguhnya, perumpamaan kehidupan duniawi itu , adalah seperti air ( hujan) yang kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai pula perhiasannya... " (yunus:24)

mungkin, aku patut hadir persis bunga ; rasa-kesankan jiwa yang begitu syukur atas nikmatNya ; yang melimpah-ruah.

aku tak layak; bahkan tak mampu menggegar dunia ; tapi, manfaatkan lah sebuah aksara ; tika makin sesatnya dunia ; maka, bersaksikanlah aku telah menyampaikan. Kebaikan teristimewa ; buat selamanya..


( N A I L A H ; K H A Y R E E N )











carnét de voyagé
sederhana; teduh; nyaman ; tetapi -ada
صفحة ✿

* slave of Allah ; khalifah *

wish to browse journey of life in dakwah . hermit soul to flying high. achieve dream inscribed till hereafter fields. Always hope that all of the kindness in script fruitful forever. This live will be end.



قول ✿


Hukum Memakai Pendakap Gigi (Braces)
Warkah Buat Teman Seperjuangan..
Jadilah Seperti Lebah
Bila Al-quran mula bersuara
Dakwah Solat



ذكرى ✿



شكرا ✿


Skin 100% By Yeza리키 . Header from Kaori_Chan and icon from here . Favicon are from xiolu . Re-edits by Naaila Qaireen . Milik Allah SWT, segala kebaikan.

**Aku pengkagum Srikandi Islam..**
Sunday, March 13, 2011 | 6:11 AM | 1 comments
Aku pengkagum wanita-wanita itu, manusia biasa dengan semangat luar biasa…
Punya jati diri dan tinggi keyakinan diri, pasrah berserah terhadap ketentuan-Nya

Kisah Siti Hajar meruntun sukma…
Bersama bayi kecilnya dia ditinggalkan di lembah gersang membakar…
Suami tercinta, Ibrahim berlalu dengan linangan air mata…
Rahsia dari arahan Tuhan tidak pernah dipersoalkan, hanya patuh atas setiap perintah-Nya.

Tanpa makanan, tanpa minuman, tiada pepohonan, tiada insan buat peneman..
Hanya bayinya Ismail yang mulai menangis…ratap sayunya kerana lapar dan kehausan..
Pedih hati seorang ibu, kasihnya membara menguatkan jiwa…
Ke sini dan ke sana, antara dua bukit Hajar berlarian bagai tak kenal erti lelah…
Harapan menjejak air buat merawat dahaga putera tercinta

Dari jauh bagaikan ada, namun mendekat nyata ia fatamorgana..
Putus asa tidak pernah singgah di hatinya, mencari dan terus mencari….
Berlari dan terus berlari, hingga berulang alik sampai tujuh kali…
Ingatan pada kata-katanya sendiri tersemat kukuh saat si suami berlalu pergi,
“Jika ini perintah Ilahi, pasti DIA tidak akan mensia-siakan kami!”

Aku pengkagum wanita-wanita itu, manusia biasa dengan semangat luar biasa…
Punya jati diri dan tinggi keyakinan diri, pasrah berserah dengan ketentuan-Nya

Bersuamikan Fira’un Maharaja perkasa, gelaran ratu menghiasi singgahsana…
Permaisuri Asiah jelitawan mulia, kedudukan bukan untuk bermegah..
Hanya sahaja melayan resah, suami di sisi berbeza aqidah…
Angkuh sombong zalim pemerintahan, takbur mendakwa dirinya Tuhan..
Dilepas hidup dakwanya mampu menghidupkan…
Dihukum bunuh, sangkanya mampu mematikan.

Terhibur hatinya tatkala mendapat tahu,
Masyitah si tukang sisir menyembah Yang Esa..
Berkongsi rasa, berbagi cerita, saling mendorong teguh beragama..

Suatu ketika Masyitah menyisir rambut puteri Maharaja..
Terlancar di bibirnya saat mengambil sisir yang jatuh….
“Dengan nama Allah binasalah Fir’aun”.
Si puteri tersinggung mendengar ayahanda dihina..
Mengadu cerita, membangkit amarah ayahandanya..
“Siapakah Tuhan yang kau sembah?”

Teguh pendirian, tidak berganjak, kata-kata Masyitah mencetus lahar..
“Tiada Tuhan selain Allah , Penguasa sekelian alam dan segala isinya”
Masyitah diberi dua pilihan, mengaku kufur atau tetap beriman..
Bersaksikan rakyat jelata dan Fir’aun durjana…
Di hadapannya kuali besar tersedia, menunggu hukuman penamat usia…

Menatap bayi di dalam pelukan, cinta ibu menghadirkan belas kasihan..
Takdir Allah, si anak kecil lunak bersuara, memujuk Masyitah memilih keimanan
“Wahai ibuku, Jangan kau ragu, pintu Syurga terbuka menanti kita”.

Tanpa jeritan, tanpa keluhan,
Masyitah dan anaknya terjun ke dalam kuali besar..
Wangi semerbak mengiringi pemergian..
Roh mulia bertemu Allah Yang Maha Esa..
Menyaksikan suami menzalimi wanita dan bayi yang lemah..
Membakar jiwa Asiah, mewarwar kebenaran aqidah..
Fir’aun menganggap permaisurinya gila…
Menyiksa Asiah tanpa belas dan rasa duka..

Sebelum nafas berakhir di dunia, ke hadrat Yang Kuasa Asiah berdoa
“Wahai Tuhanku! Binalah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di dalam syurga,
Selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya,
Serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”.

Aku pengkagum wanita-wanita itu, manusia biasa dengan semangat luar biasa…
Punya jati diri dan tinggi keyakinan diri, pasrah berserah dengan ketentuan-Nya..p/s:From Bersama Menuju Iman Sejati

Labels:



Lembaran baru
Kenangan Lalu